Contoh Sosialisasi


  • Masa-masa Kehidupan Anak yang Perlu Diperhatikan Oleh Orang Tua!


    MASA-masa penting dalam kehidupan anak sering terbaikan, padahal masa itu sangat penting bagi perkembangan kehidupan si anak. Tapi ingat, bahwa setiap anak adalah individu unik alias berbeda sehingga punya masa dan kemampuan dan karakter yang berbeda.

    1. Boks bayi

    Saat bayi menginjak usia 3 bulan, tidurkan dia di dalam boksnya dan jangan di tempat tidur Anda. Soalnya, semakin bertambah usia anak, semakin susah bagi Anda untuk membiasakan dia tidur sendiri.

    Menginjak usia 2 tahun, pindahkan anak dari boks bayi ke tempat tidur.
    Anak-anak mengingat tinggi badan anak sudah bertambah sehingga risiko melompati pagar boks semakin tinggi. Untuk menghindari jatuh, sebaiknya sediakan tempat tidur anak-anak.

    2. Mainan untuk menenangkan bayi

    Pada saat bayi berusia 2 sampai 3 bulan, sebaiknya mainan untuk membuat bayi tenang jangan diletakkan di tempat yang bisa dijangkau oleh bayi. Di usia 3 atau 4 bulan, bayi suka memasukkan benda ke dalam mulutnya. Oleh karena itu, sebaiknya mainan tersebut disingkirkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

    3. Mengenalkan huruf, angka, bentuk, dan warna

    Anda dapat mulai mengajarkan huruf-huruf, angka, warna, dan bentuk saat bayi berusia 6 bulan.
    Walaupun pemahaman mereka membutuhkan waktu yang tidak sebentar, tidak ada salahnya memperkenalkan konsep-konsep tersebut kepada anak-anak sejak dini.

    Ciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Gunakan buku-buku yang berisi gambar-gambar menarik, contoh-contoh nyata seperti menyanyi, membaca buku, dan lainnya.

    4. Biarkan bermain dengan sesama bayi.

    Bayi-bayi lebih tertarik dengan sesama bayi daripada dengan orang dewasa. Pada usia 2 sampai 3 bulan, mereka saling memandang dan memperhatikan. Di umur 9 sampai 12 bulan, mereka saling memberikan dan bertukar mainan dan saling meniru. Untuk menghindari pertengkaran dan demi menciptakan suasana yang menyenangkan, sediakan dua macam mainan yang sama.

    5. Binatang piaraan

    Usahakan untuk tidak memelihara binatang sampai anak berusia 2 tahun. Anak usia 2 tahun sudah memperlihatkan rasa tertarik saat melihat ikan di akuarium dan biasanya mereka ingin memegang ikan yang ada di dalam akuarium tersebut.

    Untuk binatang piaraan seperti kucing sebaiknya tunggu sampai anak-anak berusia 3 atau 4. Anak pada usia ini belum dapat diberi tanggung jawab untuk mengurus binatang seperti memberi makanan. Hal ini baru dapat dilakukan saat mereka berusia paling tidak 7 atau 8 tahun atau bahkan lebih tua dari itu dan tentu saja tetap perlu diawasi.

    6. Tempat penitipan


    Sebaiknya Anda menitipkan anak pada tempat penitipan atau memasukkannya ke kelompok bermain saat usianya menginjak 3 tahun.
    Bagaimanapun juga, Anda perlu mempertimbangkan faktor-faktor kemandirian, temperamen, dan sosialisasi anak dengan teman sebayanya.

    7. Melakukan tugas

    Anda dapat mulai mengajarkan tugas sehari-hari sejak anak berusia 18 bulan
    . Membereskan mainan, meletakkan pakaian kotor di keranjang pakaian kotor atau meletakkan serbet di meja makan merupakan permulaan yang baik untuk diajarkan kepada anak-anak.

    Pada awalnya mereka memerlukan bantuan Anda, tetapi lama-kelamaan dapat melakukannya sendiri dan tanpa Anda sadari ternyata si kecil dapat melakukan lebih dari yang diajarkan.

    Bila usianya bertambah, tambahkan juga tugas yang dapat diajarkan kepada mereka seperti menyiram tanaman, membersihkan sesuatu yang tumpah, membereskan tempat tidur, dan membawa piring-piring plastik ke tempat cuci piring.

    8. Kehadiran adik

    Jelaskan pada anak mengenai bayi yang Anda kandung pada trimester kedua dari kehamilan
    karena pada saat ini kandungan mulai tampak dan kemungkinan keguguran telah berlalu.

    Ingat, Anak-anak sangat konkret. Jadi, berapa pun usia mereka pastikan untuk memberitahukan kepada mereka apa peran dan tugas yang dapat mereka lakukan pada saat kelahiran adiknya. Anda juga dapat mengajaknya saat melakukan USG sehingga memberi masukan kepadanya untuk memahami kehamilan.

    9. Gigi

    Sebaiknya bawa bayi ke dokter gigi sekitar 6 bulan sesudah gigi pertamanya keluar atau tidak melewati ulang tahunnya yang pertama.
    Disarankan anak-anak ke dokter gigi pada usia 3 tahun atau bila diperlukan sebelum 3 tahun jika ada masalah dengan giginya. Carilah dokter gigi spesialis anak atau dokter gigi yang telaten dan bersikap ramah pada anak sehingga si kecil tak merasa takut.

    10. Perosotan

    Anda dapat membiarkan anak bermain perosotan tanpa dipegang pada usia 15 sampai 18 bulan.
    Begitu ia dapat berjalan dengan baik, dia mampu mengontrol tubuhnya. Anak usia ini sudah mampu, kok, menjaga keseimbangan tubuhnya ketika meluncur dan mendarat di bawah dengan aman.

    11. Ayunan

    Tiga sampai enam bulan sesudah dia dapat berjalan, Anda dapat membawanya bermain ayunan untuk anak-anak yang lebih besar. Begitu seorang anak sudah dapat berjalan dengan baik, mereka mampu menjaga keseimbangan tubuhnya dengan baik.

    Artinya, mereka dapat menyesuaikan tegangan lengan mereka untuk menjaga keseimbangan dan mengontrolnya. Pastikan posisi ayunan dekat dengan tanah dan dorong dengan pelan untuk menghindari kecelakaan.

    12. Mainan beroda

    Anda juga sudah dapat membelikan anak mainan yang bisa dikendarai seperti mobil-mobilan atau sepeda-sepedaan. Sebagian anak ada yang sudah dapat mengatur kaki mereka untuk mengayuh ke depan dan ke belakang; sementara sebagian lagi masih memerlukan bantuan kita untuk mendorongnya.

    Pada usia 18 bulan, Anda sudah dapat membelikannya sepeda roda tiga.
    Walaupun dia belum terlalu bisa mengatur gerakan mengayuh, anak tetap dapat menikmati mainannya sambil memegang pegangannya.

    13. Gelas hirup

    Pada usia 18 bulan hentikan pemakaian gelas hirup/bercorong.
    Pada usia tersebut anak sudah harus dapat menggunakan cangkir/gelas untuk minum kecuali di dalam kendaraan atau di tempat bermain. Biasakan anak minum di gelas. Untuk mengantisipasi air yang tumpah, sediakan tisu/lap atau ajari ia minum dengan menggunakan sedotan.

    14. Badut

    Biasanya anak-anak di bawah 3 atau 4 tahun takut dengan badut.
    Namun ada juga yang tidak takut. Anda dapat mengetahui hal ini dari reaksi mereka ketika melihat badut. Bila mereka biasa-biasa saja, berarti tidak masalah tetapi bila mereka takut dan berteriak, Anda dapat membawanya mendekati si badut di tahun berikutnya.

    15. Bepergian tanpa anak

    Anda dapat bepergian tanpa anak pada saat bayi berusia di bawah 5 bulan. Pada usia 5 bulan ke bawah, bayi tidak/belum merasakan kehilangan Anda. Dalam beberapa hal, bayi lebih dapat berpisah daripada anak balita yang sudah lebih mengenal Anda.

    Semakin Anda dekat dengan anak, semakin susah mereka ditinggalkan. Jadi, bila sejak dini Anda membiasakan pergi tanpa anak atau membiasakan anak dititipkan pada seseorang yang Anda percaya untuk mengurusnya, di usianya yang lebih tua semakin mudah bagi Anda dan dia untuk tidak selalu bersama-sama. Lagipula, Anda dan pasangan sesekali berhak untuk menikmati waktu hanya berduaan.

    16. Meniru

    Anak-anak di usia 3 tahun senang meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa, bersikap seperti orang dewasa, dan membuat senang orang dewasa.
    Jadi, kebiasaan yang Anda lakukan di depan anak biasanya akan ditiru si kecil. Misalnya, menggendong adik.

    Biarkan kakak sulung menggendong adiknya bila menurut Anda tidak bahaya. Jelas sekali anak-anak memerlukan kekuatan tertentu, koordinasi, dan tuntunan untuk menggendong adiknya. Sejauh dia selalu diawasi duduk di sebelah orang tuanya atau orang dewasa lain Anda tidak perlu khawatir.

  • Sungguh Ironi Menjabat Urusan Trafficking, Belum Paham Tentang Trafficking ?

    SEBENARNYA di Provinsi Sulut sudah ada Badan Perlindungan Perempuan dan Anak (BPPA) yang perannya sangat strategis untuk memberantas trafficking. Tapi, rasanya sulit berharap kepada badan tersebut. Mengapa?

    Pertama, masalahnya terletak pada sumber daya di badan tersebut. Ketika Jawa Pos mewawancarai Elvie Wongkaren, Kabid Perlindungan Perempuan BPPA, hasilnya cukup mencengangkan. Boro-boro bicara tentang program, Elvie sendiri mengaku kurang paham apa itu trafficking.

    Ya, saya masih kurang memahami apa itu trafficking. Saya baru saja menjabat di sini,” kilahnya saat diwawancarai akhir Maret lalu. Untuk itu, Elvie mengaku masih melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak dulu. Wawancara dengan Elvie dilakukan Jawa Pos setelah tiga kali usaha wawancara dengan Kepala BPPA Sulut Verra Logor gagal. Kebetulan Verra selalu ada acara di luar kota terus ketika didatangi Jawa Pos.

    Selama wawancara itu, jawaban Elvie sangat standar. ”Sekarang ini kami masih melakukan sosialisasi mengenai trafficking ke masyarakat,” jawab Elvie. Ketika ditanya lebih lanjut, sosialisasi semacam apa yang dilakukan dengan sasaran apa, Elvie mengatakan, pihaknya masih melakukan pendataan. ”Kami masih mendata jumlah korban,” urainya.

    Dia lantas menjelaskan, pada trisemester pertama pihaknya masih melakukan pendataan. Apa yang didata? ”Semuanya, baik permasalahan maupun korban-korbannya,” tuturnya. Ketika ditanya apa yang akan dilakukan BPPA untuk memberantas trafficking, Elvie mengaku belum tahu. Sebab, dia memang belum tahu terlalu banyak.

    Ini cukup ironis. Apalagi, anggaran untuk belanja langsung BPPA setiap tahun Rp 1,2 miliar.

    Dari daftar belanja itu, masih banyak belanja yang tak terkait langsung dengan pemberantasan trafficking ataupun pemberdayaan wanita. Misalnya, hampir Rp 350 juta di antaranya habis untuk “membenahi” internal BPPA. Yang paling banyak, Rp 237,7 juta untuk program pelayanan administrasi perkantoran.

    Yang langsung berkaitan dengan pemberdayaan perempuan adalah program peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan. Untuk program yang satu ini, BPPA menganggarkan Rp 129.862.500. Jumlahnya masih kalah dengan program pelayanan administrasi perkantoran.

    Lagi-lagi ini cukup ironis, karena peran BPPA sebenarnya sangat penting untuk memberantas trafficking sejak awal. Salah satu kata kunci paling penting untuk mengurangi angka trafficking adalah “pemberdayaan”. ”Sangat penting bagi para perempuan muda Minahasa maupun perempuan yang baru saja menjadi korban trafficking,” kata Debby Momongan, salah satu aktivis yang berperan penting mengenai lahirnya perda antitrafficking tersebut.

    Menurut wanita yang juga pemimpin di Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), what’s next adalah pertanyaan yang selalu diajukan para perempuan, baik yang akan atau yang sudah menjadi korban trafficking. ”Kasarannya, setelah dipulangkan, terus mau apa? Tentu tak bisa hanya dipulangkan begitu saja, kan,” kata Debby.

    Debby mengatakan, bila tak ada kesempatan, harus ada upaya menguatkan mental para korban trafficking tersebut. Misalnya, pelatihan atau lebih baik jika diberi pekerjaan.

    Ini memang beralasan. Sering terjadi di Sulut, dulu adalah korban trafficking, lalu keenakan (karena bisa mendapat uang dengan sangat cepat, Red) dan berbalik menjadi pelaku trafficking. ”Dalam hal ini adalah soal mental,” tuturnya.

    Debby mencontohkan kisah Ana (nama samaran), salah seorang korban trafficking yang pernah dia selamatkan. Pulang ke daerahnya di Minahasa Selatan, Ana sama sekali tak tahu apa yang harus dikerjakan. Dengan usia yang sudah 20 tahun, Ana malu kalau hanya menganggur. Padahal, keinginan mempunyai baju bagus, ponsel keluaran terbaru, dan bergaya masih kuat.

    Bisa ditebak, Ana kemudian mencari sendiri sindikat trafficking. Untung saja, sindikat tersebut dibekuk polisi pada 2005. Untuk kali kedua Ana “terselamatkan”. Untuk kali kedua ini, Ana bertemu Debby, yang kemudian dengan sangat pelan terus mendorong dirinya untuk “memberdayakan diri sendiri”. Kini Ana sudah hidup berkecukupan, membuka salon, dan mempunyai suami dan dua anak.

    Porsi-porsi seperti inilah yang harus diambil pemerintah daerah, khususnya BPPA. Namun, mengingat kinerja BPPA sendiri -yang hingga akhir Maret lalu masih mendata, sosialiasi, dan tak tahu apa yang harus dilakukan- tampaknya memberantas trafficking di Sulawesi Utara masih membutuhkan waktu lama.