Hasil Pengumuman K2 Depag Paluta


Virus baru penyebab sindrom hilangnya sistem kekebalan tubuh atau AIDS telah ditemukan pada seorang perempuan Kamerun, Afrika. Virus ini berbeda dengan tiga macam jenis virus HIV (Human Immuodeficiency Virus) sebelumnya dan tampak mirip dengan simian virus yang baru ditemukan pada gorila liar. Demikian keterangan para ahli dalam Jurnal Nature Medicine, Senin (3/8).

“Temuan jenis baru virus HIV ini menjadi sorotan, terutama di bagian barat Afrika Tengah,” ungkap tim peneliti yang dipimpin Jean-Christophe Plantier dari Universitas Rouen, Prancis. Sebelumnya, tiga jenis virus HIV memang ditemukan di simpanse.

“Penjelasan yang paling mungkin dari penemuan baru ini adalah transmisi dari gorila ke manusia,” ungkap tim dari Plantier. Tetapi mereka juga menambahkan jika tidak menutup kemungkinan bahwa virus ini dimulai dari simpanse berpindah pada gorila kemudian ke manusia atau langsung bertransmisi dari simpanse ke gorila dan manusia.

Pasien yang merupakan wanita berumur 62 tahun itu memang positif terjangkit HIV tahun 2004. Virus itu didapat segera setelah pindah dari Kamerun ke Paris. Menurut tim peneliti, pasien tinggal di dekat Yaounde, ibu kota Kamerun. Sang pasien mengaku tidak berinteraksi dengan kera dan tak mengonsumsi dagingnya.

“Wanita itu kondisinya tidak stabil dan saat ini justru tidak menunjukkan tanda-tanda AIDS walaupun dia masih positif terjangkit HIV,” ungkap pihak peneliti. “Proses penyebaran virus ini memang masih diteliti,” tambah mereka. Riset ini juga didukung oleh Institut Pengamat Kesehatan di Prancis (French Health Watch Institute) yang meneliti AIDS dan virus hepatitis, serta pihak Rumah Sakit Universitas Rouen.

Laporan lainnya, yang juga termasuk dalam Jurnal Nature Medicine menyatakan jika orang-orang penderita herpes kelamin juga berisiko tinggi terinfeksi HIV walaupun herpes itu telah sembuh dan bekasnya hilang. Para peneliti yang dipimpin Lawrence Corey dan Jia Zhu dari Fred Hutchinson Cancer Research Center menemukan bahwa luka herpes lama-kelamaan memang menghilang tapi aktivitas sel-selnya masih dapat mendorong infeksi HIV.

Herpes yang pecah memang berisiko tinggi mendorong infeksi HIV. Studi terakhir tahun ini juga menemukan jika perawatan dengan obat herpes tidak akan mengurangi risikonya. Para peneliti sudah menguji kulit pasien penderita herpes beberapa minggu setelah bekasnya hilang. Mereka menemukan jika virus masih bisa menyerang 37 kali lipat lebih banyak di kulit yang telah luka dan sembuh itu. HIV bekerja dengan menyerang sel kekebalan tubuh.

Dari uji laboratorium ditemukan jika virus HIV memproduksi lima kali lipat lebih cepat di jaringan yang pernah sembuh dari herpes di banding jaringan yang tidak pernah ada herpes. “Dengan tidak adanya perawatan obat yang mampu menanggulangi virus ini, memang lebih baik mencegahnya saja,” komentar Doktor Antony S. Fauci yang merupakan Direktur Institute of Allergy and Infectious Disease

Sumber : Liputan6.com

  • Perbandingan Mobil Hibrida dengan Mobil Listrik dan Energi Alternatif

    Dalam usaha mengurangi pencemaran lingkungan atau pemanasan global, produsen mobil telah berhasil menciptakan mobil yang bisa menggunakan berbagai energi alternatif. Antara lain, hidrogen, bahan bakar gas (CNG) atau di Indonesia disebut BBG, elpiji, dan terakhir yang juga mulai populer adalah mobil listrik. Namun,...
  • Tahukah Anda 10 Ponsel Terbaik di Tahun 2009 ?

    Sistem operasi Google Android mendapat momentum besar tahun ini. Tak mengherankan jika HTC Hero yang menjalankan Android telah menjadi handset terbaik tahun ini. Perangkat, yang memiliki layar sentuh 3.2 inci, kamera lima megapixel dan menjalankan sistem operasi Google Android itu mendapat pujian karena...